Menu Atas

Monday, June 5, 2017

"Gerah"

Buka facebook, status temen-temen masih sama aja. Pendukung A nyela si B, pendukung B nyela si A. Parahnya udah merembet ke SARA. Masing-masing pada sok bener, ada yang merasa dirinya paling pancasila, ada yang merasa dirinya paling suci.

Meeennn... diujung sana dalangnya ketawa-ketiwi liat kalian postang-posting saling menjatuhkan sesama "saudara".

Meeennn... masih banyak yang lebih prioritas untuk lo pikirin, terutama yang udah berkeluarga.

Sampe-sampe gw kepikiran, MENDING INDONESIA PERANG DAH AMA NEGARA LAIN biar rakyat pada bisa kompak dan bersatu lagi. Pemikiran yang konyol emang, tapi kalau itu bisa buat "saudara-saudara" kita bersatu dan mempunyai visi yang sama lagi, WHY NOT?

Tau ga? berita-berita yang sebagian besar HOAX kalian posting atau broadcast via aplikasi chat itu, bisa bikin orangtua pintar, terpelajar dan terhormat tapi gaptek dan baru kenal sosmed jadi terlihat seperti bebek yang gampang digiring kemana aja.

Orangtua-orangtua seperti itu jadi kehilangan respek dari sekitarnya. Dan terus terang, gw udah banyak hilang respek ama jenis manusia-manusia tersebut. Semoga mereka diberikan hidayah...

Sekali lagi meen... pikir ribuan kali sebelum posting atau blasting sesuatu, ga mendukung salah satu pihak bukan berarti pengecut, tapi itu ingin menjadi perangkul pihak A dan pihak B. Bukankah itu juga sesuatu yang baik?

INGAT, "KITA BERHUTANG NEGARA YANG SEHAT, AMAN DAN NYAMAN PADA GENERASI SETELAH KITA".

-AR-

Monday, December 28, 2015

GREEN MINDSET

Hehehe...lagi bebenah file eh nemu paper waktu gw ikut training GREENSHIP Associate Batch XI. Dari pada cuma jadi sekedar syarat kelulusan, gw share disini aja. Semoga bisa lebih berguna :p









Tuesday, November 10, 2015

Terpaksa Melanggar Hukum Sejak Kecil

Judul diatas terpikir setelah gw diskusi singkat bersama bini waktu berangkat kerja, kami melihat beberapa anak-anak memanjat pagar sekolah untuk main sepakbola. Hari ini anak-anak sekolah memang sedang liburan panjang, dan pagar sekolah itupun telah tertutup dengan rapat. Jika dilihat dari satu sisi, mereka telah melanggar hukum karena telah masuk ke wilayah sekolah tanpa ijin. Dan bila ada kaca yang pecah terkena bola pun kemungkinan besar mereka akan kabur untuk menghindar dari tanggung jawab.
Tapi coba kita pikir kembali, kenapa anak-anak itu mengambil resiko sampai memanjat pagar sekolah hanya untuk bermain sepakbola? Fasilitas, ya fasilitas... pemerintah kurang/tidak menyediakan fasilitas untuk mereka yang tinggal dikampung. Jangan bicara taman kota, sudah jelas namanya taman kota maka lokasinya pasti berada di kota. Untuk kesana anak-anak itu memerlukan ongkos yang tidak sedikit buat mereka. Lapangan-lapangan umum yang dulu ada sekarang telah menjadi hunian. Sering gw lihat anak-anak main bulutangkis atau sepakbola dijalanan, dimana waktu mereka sedang asik bermain lalu ada orang/motor/mobil yang lewat dan mereka pun terpaksa berhenti bermain sebentar untuk membiarkan orang/motor/mobil itu lewat.
Gw ga tau apakah ada peraturan yang mewajibkan kelurahan atau kecamatan memiliki fasilitas bermain atau lapangan gratis untuk warganya, seenggaknya di setiap RW (Rukun Warga) harus tersedia lapangan bermain untuk anak-anak. Ada yang mikirin ga seh, kalo mereka main dijalan itu resikonya lebih gede. Bisa ketabrak mobil, ketabrak motor, ganggu orang lewat, dll.
Semoga dimasa depan anak-anak kita bisa bermain dengan resiko yang minim dan tidak “dipaksa melanggar hukum”.

-AR-

Tuesday, February 24, 2015

Ini bukan jaman kita lagi kawan...

Teman-temanku, judul diatas gw buat berdasarkan muaknya gw melihat dan membaca tulisan-tulisan yang memprotes kebijakan dan kelakuan para ABG saat ini.  Ingat ga dulu waktu kita ABG, orang tua selalu memberi nasehat dengan cara membandingkan jaman kita dengan jaman mereka masih. Saat itu, gw pribadi juga kesel banget. Dalam hati gw bilang, Father... jaman lo ama jaman gw itu beda. Dulu emang jaman susah, belajar aja pake lampu petromak. Cara didik dulu udah ngga sesuai diterapin dengan kemajuan saat ini, jadi pliss deh... sebelum memprotes coba cari tahu dulu apa yang gw hadepin di luar sana. Dulu jaman father dengan keterbatasan informasi, pola pikir jadi ngga banyak terkontaminasi. Karena informasi yang didapet cuma dari lingkungan rumah dan sekolah, di sekolah juga kurikulumnya itu2 aja. Jadi plisss... ngertiin kami inilah sebagai ABG. Ya begitulah kira-kira....
Dan sekarang gw udah berkeluarga dan memiliki anak, begitupun dengan sebagian teman-teman gw. Di era yang menurut gw kebablasan dan arus informasi yang udah ga ada filternya, cobaan anak-anak sekarang tuh lebih berat dibandingin jaman kita kawan. Jadi jangan sekali-kali lo ngejudge siswa-siswi (baca:adik-adik kita) yang berprilaku salah dan membandingkan dengan masa-masa perjuangan elo.
(-ilustrasi)
Karena jelas-jelas JAMAN KITA DAN MEREKA SUDAH BEDA, jangan sok-sokan menjadi pribadi yang lebih baik dari mereka. Bila lo memang merasa lebih baik dari mereka saat lo menjadi siswa/siswi maka beruntunglah anda, karena mungkin anda berada dilingkungan yang baik, informasi yang anda terima saat anda berproses menjadi dewasa dapat terfilter dengan baik, dan anda juga memiliki pribadi yang kuat dalam memilah informasi. Tapi, jangan sekali-kali lo ngebandingin diri lo dengan adik-adik kita. Karena tidak semua adik-adik kita seberuntung anda, orangtua mereka bukan orangtua anda dan latar belakang mereka juga beda dengan latar belakang anda. Jadi persetanlah buat mereka yang selalu bilang “Dulu jaman gw sma bla bla bla... kok anak sekarang bla bla bla...”, hey meeennn... bedanya berapa tahun men....

Mungkin lebih baik sebelum protes, sebelum ngejudge, kita mencoba masuk ke dunia mereka dan mencari tahu ada kesalahan dimana dan COBA PERBAIKI DENGAN CARA YANG SESUAI DENGAN JAMAN MEREKA. Kita yang harus mengikuti mereka, bukan mereka yang mengikuti kita. Tentunya ngga keluar dari koridor yaa....

Gw aja sekarang belum bisa ngebayangin bagaimana beratnya jaman anak gw remaja nanti, seliar apa informasi yang mereka terima, bagaimana pergaulan 15 tahun kedepan. Dan jujur, gw juga belom tau cara untuk masuk ke dunia mereka nantinya. Yang bisa gw lakukan saat ini, banyak membaca, belajar dan terus belajar untuk menjadi orangtua yang baik untuk mereka.

Thursday, November 13, 2014

Bahan kimia yang terkandung dalam rokok

Lagi-lagi gw akan mengutip dari situs wikipedia


Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:
  • Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
  • Tar, yang terdiri dari lebih dari 4.000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
  • Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
  • Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  • Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  • Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  • Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
  • Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  • Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  • Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  • Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  • Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil dan motor.
Meskipun demikian, hanya tar dan nikotin saja yang dicantumkan dalam bungkus rokok.